Aku
bersandar pada pembatas kenyataan dan impian,
bukankah
kau mencintaiku tanpa syarat?
ketika batas siang dan malam begitu tak
berjarak,
meski kita tak terjembatani,
kau
bertahan pada sesuatu yg erat kau genggam.
Apa
yang membuat matamu teguh menatapku,
hingga pedang tajam mencabik dan kau
tetap disini,
merobek kesadaran dan keikhlasanmu,
aku tak lebih dari sepotong waktu,
menjelma
sekejap lalu lenyap.
Kita
takkan berjalan disepanjang barisan pinus,
mencium aroma tanah dan menyentuh
dedaunan.
tak mampu berlarian di pesisir pantai,
merasakan debur ombak menyentuh sela
jemari kaki kita.
atau
memberi terang dipekatnya malam,
memandang
kerlip jenaka sang bintang dengan bergandengan tangan…
saling
menguatkan dan memberi keteduhan.
Kau
terlampau mengerti,
hingga
tetap berada disana,
ditempatmu
sebelumnya.
Tak
akan kuingkari jika kesahajaanmu,
menghancurkan
keangkuhanku. kubiarkan,…
ketika keteduhan matamu mengusikku.
ketika aku dan kamu melewati waktu
aku
tetap mencuntaimu.. .. ..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar